dalam bayang-bayang bulan
menggaris padang yang terpandang
menyisir sepi
yang mengitari setiap sisi
menghantarkan kelukaan ini pada malam
terdiamku
merenungku
tersentak mata terbuka
terasa perih di telinga
saat
dengan tiba-tiba
kicauan para penabuh genderang
hiruk pikuk memekakan
aku yang bagai rumpun tua
yang tiada bernyawa
gemeretak bibir ketika anganku menjauh
semakin jauh
kemana
dan kemana perginya ia
sang pelantun merdu
yang biasanya setia menemani di saat aku begelut pada mimpi
yang biasanya datang
dan menembangkan syair sang perindu
di sini aku menanti
di sini aku masih berharap
suara merdu bagai dulu
yang dibisikan di telingaku
duhai sang rembulan
bawalah diri ini terbang
tuk menjemput mimpi yang pernah menghilang
menggaris padang yang terpandang
menyisir sepi
yang mengitari setiap sisi
menghantarkan kelukaan ini pada malam
terdiamku
merenungku
tersentak mata terbuka
terasa perih di telinga
saat
dengan tiba-tiba
kicauan para penabuh genderang
hiruk pikuk memekakan
aku yang bagai rumpun tua
yang tiada bernyawa
gemeretak bibir ketika anganku menjauh
semakin jauh
kemana
dan kemana perginya ia
sang pelantun merdu
yang biasanya setia menemani di saat aku begelut pada mimpi
yang biasanya datang
dan menembangkan syair sang perindu
di sini aku menanti
di sini aku masih berharap
suara merdu bagai dulu
yang dibisikan di telingaku
duhai sang rembulan
bawalah diri ini terbang
tuk menjemput mimpi yang pernah menghilang
11112013-18.50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar